(Sumber gambar : http://gaby.fachrul.com/img/flowerwallpaper/flower-wallpapers/next-previous1920-x-1080-135-kb-jpeg-x.jpg)
“Ah” terucap dari
mulutku yang durhaka. Aku mencaci ibunda, aku membentaknya dan membuatnya
terdiam tanpa kata. Di akhir senja setelah maghrib tiba seolah hati terasa
marah kepada ibunda akan keinginan yang tak diizinkannya. Maghrib usai aku
berbalik ke rumah ibunda, aku bercakap pada ibunda, aku bercakap halus pada
awalnya namun akhirnya aku bercakap keras padanya. Aku bercakap seperti
mencelanya, aku mencacinya, aku gila masa itu, aku tak sedarkan diri sedang
bercakap apa .